Pedi: Difference between revisions
Created page with "alt=dokumentasi adit|thumb|300x300px|media batu ak1k ==== Pedi, Praktik ilmu gaib berupa mantra atau santet (Andriliwan Muhammad dkk, 2023), yang dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan sebutan ''pedi''. Kepercayaan terhadap ''pedi'' bagian dari budaya Polahi dan menyebar di kalangan masyarakat kampung hingga masyarakat kota di Gorontalo. Ilmu ''pedi'' diyakini dapat menyebabkan berbagai macam gangguan fisik dan psikis, seperti perut yang mem..." |
mNo edit summary |
||
| (One intermediate revision by the same user not shown) | |||
| Line 1: | Line 1: | ||
[[File:Media batu | [[File:Media batu ak1k.png|thumb|300x300px]] | ||
'''Pedi''', Praktik ilmu gaib berupa mantra, simbol simbol atau menggunakan media yang dimantrakan<sup>1</sup>, dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan sebutan ''pedi''. Kepercayaan terhadap ''pedi'' bagian dari budaya Polahi dan menyebar di kalangan masyarakat kampung hingga masyarakat kota di Gorontalo. Ilmu ''pedi'' diyakini dapat menyebabkan berbagai macam gangguan fisik dan psikis, seperti perut yang membengkak seolah-olah hendak pecah, nyeri dada yang akut, sakit kepala hebat, kondisi kerasukan yang menyebabkan tubuh terasa ingin terbang, sensasi mata seperti akan copot, hingga fenomena aneh seperti keluarnya benda gaib dari mulut atau tubuh (dikenal dengan istilah ''[https://kamusgorontalo.com/index.php?kategori=semua&kata=huhemo huhemo]'') dan gejala lainnya. Meskipun masih banyak masyarakat Gorontalo yang mempercayai keberadaan ''ilmu pedi'', terdapat pula sebagian masyarakat yang menganggapnya sebagai takhayul dan tidak mempercayainya sama sekali. Namun demikian, praktik-praktik terkait ''pedi'' masih dijumpai di beberapa wilayah dan dipercaya oleh sebagian kalangan masyarakat sebagai bagian dari warisan ilmu tradisional yang digunakan untuk sesuatu hal gaib. | |||
Salah satu do’a masyarakat ''Polahi'' yang diamalkan sebagai bentuk perlindungan diri dari gangguan ilmu hitam atau santet (''pedi'') : | Salah satu do’a masyarakat ''Polahi'' yang diamalkan sebagai bentuk perlindungan diri dari gangguan ilmu hitam atau santet (''pedi'') : | ||
| Line 12: | Line 11: | ||
'''''Popoluwalo to botu lo pokudu lati...'''''</blockquote> | '''''Popoluwalo to botu lo pokudu lati...'''''</blockquote> | ||
== Referensi == | |||
Andriliwan Muhammad dkk, 2023 | |||
Latest revision as of 01:37, 19 June 2026
Pedi, Praktik ilmu gaib berupa mantra, simbol simbol atau menggunakan media yang dimantrakan1, dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan sebutan pedi. Kepercayaan terhadap pedi bagian dari budaya Polahi dan menyebar di kalangan masyarakat kampung hingga masyarakat kota di Gorontalo. Ilmu pedi diyakini dapat menyebabkan berbagai macam gangguan fisik dan psikis, seperti perut yang membengkak seolah-olah hendak pecah, nyeri dada yang akut, sakit kepala hebat, kondisi kerasukan yang menyebabkan tubuh terasa ingin terbang, sensasi mata seperti akan copot, hingga fenomena aneh seperti keluarnya benda gaib dari mulut atau tubuh (dikenal dengan istilah huhemo) dan gejala lainnya. Meskipun masih banyak masyarakat Gorontalo yang mempercayai keberadaan ilmu pedi, terdapat pula sebagian masyarakat yang menganggapnya sebagai takhayul dan tidak mempercayainya sama sekali. Namun demikian, praktik-praktik terkait pedi masih dijumpai di beberapa wilayah dan dipercaya oleh sebagian kalangan masyarakat sebagai bagian dari warisan ilmu tradisional yang digunakan untuk sesuatu hal gaib.
Salah satu do’a masyarakat Polahi yang diamalkan sebagai bentuk perlindungan diri dari gangguan ilmu hitam atau santet (pedi) :
Mo’ipokudu lati, botu lo pokudu lati
Popoluwala to pinthu lo halawati (pohinggi bisa lo pedi)
Pinthu lo halawati
Popoluwalo to botu lo pokudu lati...
Referensi
[edit | edit source]Andriliwan Muhammad dkk, 2023